Jumat, 28 Maret 2014

KISAH PERJALANAN KE BULAN




 


Daily Mail
NEIL ARMSTRONG

Sejak dulu, Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah 2 negara yang sudah mulai melakukan banyak penelitian luar angkasa. Keduanya pun bersaing untuk melakukan misi ke Bulan.
Ternyata, pendaratan manusia pertama di Bulan berhasil dilakukan oleh Amerika Serikat. Negara adidaya ini berhasil mengukir sejarah sebagai negara pertama yang mengirimkan manusia ke Bulan.
Misi Apollo 11 yang dilakukan pada 20 Juli 1969 sudah menjadi bagian dari sejarah dunia. Seluruh penjuru dunia tahu bahwa Apollo 11 milik AS berhasil mengantar para astronot terbaiknya untuk mendarat di Bulan dan menancapkan bendera negara AS.
Sebagian besar orang hanya tahu bahwa manusia yang pertama mendarat di Bulan adalah Neil Armstrong, pada kenyataannya, Neil Armstrong pergi bersama kedua orang rekannya dengan Apollo 11 tersebut.
Ketiga astronot yang pergi dengan Apollo 11 itu adalah Neil ArmstrongMichael Collins, dan Buzz Aldrin. Mereka mempunyai peran dan tanggung jawabnya masing-masing dalam misi Apollo 11 tersebut.
Perjalanan misi untuk mengambil contoh tanah dari permukaan bulan ini berlangsung selama 8 hari.
Sekembalinya mereka ke Bumi, Neil Armstrong dan rekan-rekannya mendapat penghargaan dari pemerintahan AS yang dipimpin Presiden John Kennedy. Selain itu, seluruh warga AS juga bersorak untuk keberhasilan misi yang merka emban.
Berikut ini beberapa foto momentum bersejarah yang diukir kru Apollo 11.


Bettman/CORBIS

NASA
NASA/Daily Mail

Bettman/CORBIS

Bettman/CORBIS


BERIKUT INI ADA KISAH PERJALANAN 



Kisah Perjalanan Apollo 13 yang Menakjubkan

" 
Kisah Perjalanan Apollo 13 yang Menakjubkan
"Saya mendengar suara [radio] dari luar angkasa, 'Houston, kami memiliki masalah.'"

Ada peristiwa-peristiwa dalam sejarah, yang seolah-olah menghentikan waktu. Pada saat itu seluruh dunia seakan menahan napasnya, menunggu dan melihat apa yang akan terjadi kemudian. Ketika itu saya masih berusia dua belas tahun, saat misi dramatis Apollo 13 ke bulan menangkap perhatian dunia. Saya ingat, ketika itu saya terpaku pada layar televisi, menerka-nerka apakah awak pesawat itu akan berhasil kembali ke bumi, ataukah mereka akan tersesat selamanya dalam kehampaan luar angkasa yang kelam.

Hari itu, 13 April 1970, Jerry Woodfill benar-benar berada di pusat peristiwa itu. Senin malam itu, ia bertugas sebagai Teknisi Sistem Peringatan bagi misi Apollo 13 ke bulan yang bernasib buruk itu. Sebenarnya, jam kerja Jerry akan berakhir pada pukul 10 malam, tetapi setelah pukul 9, ia ingat ketika sedang memeriksa panel kontrol dan menyadari bahwa ada sesuatu yang benar-benar salah.

Pada saat yang sama, dua ratus enam puluh kilometer dari planet bumi, para kru Apollo 13 mendengar suara ledakan yang teredam. Mereka memandang keluar dari jendela kokpit dan melihat uap yang menyembur ke ruang angkasa.

"Saat itulah saya mendengar suara dari luar angkasa, 'Houston, kami memiliki masalah.' Sama seperti kata-kata di film Apollo 13, yang disutradarai oleh Ron Howard yang terkenal itu. Tetapi seharusnya mereka berkata, 'Houston, kami memiliki beberapa masalah' -- karena saya melihat beberapa indikator tanda bahaya yang menyala sekaligus."

Hal itu membuat para teknisi NASA membutuhkan waktu untuk mengetahui apa yang salah. Dalam setiap program misi Apollo ke bulan, selalu ada dua bagian pesawat luar angkasa yang diluncurkan: sebuah pesawat induk yang berfungsi untuk mengorbit di orbit bulan dan membawa kru astronaut kembali ke bumi, dan sebuah Lunar Lander untuk membawa dua dari tiga astronaut mendarat di permukaan bulan dan membawa mereka kembali ke pesawat induk yang berada di orbit bulan. Tampaknya, hubungan arus pendek telah menyebabkan ledakan pada salah satu dari tabung oksigen di pesawat induk. Uap yang mereka lihat tadi adalah oksigen cair yang berada dalam tabung yang rusak tersebut.

"Ketika tabung oksigen itu meledak, hal itu menimbulkan sejumlah kerusakan yang berikutnya pada sistem yang lain," ujar Jerry. "Sel bahan bakar berhenti berfungsi, yang dengan demikian membuat daya listrik di pesawat induk menjadi padam. Tanpa daya listrik di pesawat induk, para kru harus berpindah dari menggunakan tenaga dari sel bahan bakar kepada daya dari baterai. Pesawat itu sedang sekarat."

Tak lama kemudian, para personel NASA menyadari akibat dari ledakan itu. "Saya rasa mungkin membutuhkan sembilan puluh menit bagi kami, untuk benar-benar mengerti bahwa pesawat induk tidak lagi dapat mendukung kehidupan para kru, dan mengharuskan kami untuk menggunakan pendarat bulan itu sebagai perahu penyelamat. Pesawat induk itu didesain untuk menampung tiga astronaut dan untuk mendukung mereka selama seluruh perjalanan, sementara Lunar Lander itu didesain hanya untuk menampung dua orang dan misi mereka selama kurang dari empat puluh delapan jam. Tetapi sekarang, Lunar Lander itu harus dapat bertahan selama jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bumi -- dengan tiga orang di dalamnya.

Dengan nyawa para astronaut sebagai taruhannya -- kru teknisi dan para pengawas penerbangan bekerja mati-matian, mencari cara untuk membawa para pemberani itu pulang. Saat itu mereka menghadapi tiga dilema. Pertama, sistem penyaringan udara pada Lunar Lander tidak dapat bertahan untuk mencukupi kebutuhan untuk tiga orang, dalam waktu yang dibutuhkan agar ketiganya dapat mencapai bumi. Setiap anggota kru akan mati karena karbon dioksida yang akan semakin bertambah di dalam pesawat itu. Kedua, tanpa daya listrik di pesawat induk, mereka tidak akan sanggup mencapai atmosfer bumi.

Ketiga, dengan kerusakan yang dialami oleh pesawat induk, para astronaut itu tidak dapat menggunakan mesin pendorong yang dimiliki pesawat induk untuk membawa mereka pulang ke bumi, sehingga mereka harus menggunakan mesin pendorong yang lebih kecil, yang terdapat pada Lunar Lander. Masalahnya, mesin pendorong pada Lunar Lander hanya didesain untuk mendorongnya keluar dari pesawat induk ke permukaan bulan dan kemudian kembali lagi ke pesawat induk, tidak dimaksudkan untuk mendorong kedua pesawat itu dalam perjalanan yang lebih panjang untuk mengitari bulan dan kembali ke bumi. Mereka harus memikirkan ulang rencana itu. Tugas mereka amat berat, banyak orang yang mengira bahwa para astronaut Apollo 13 tidak akan kembali.

Tetapi ada perubahan yang menarik pada jalan cerita ini. Jerry berkata bahwa seluruh orang di Amerika dan seluruh dunia berdoa bagi kepulangan para kru Apollo 13.

"Doa itu sangat nyata. Mereka berdoa di Tembok Ratapan di Yerusalem. Sri Paus di Basilika Santo Petrus berdoa agar nyawa para astronaut diselamatkan. Mereka berdoa di pabrik-pabrik di seluruh negara kami. Bursa Efek di Chicago berhenti sejenak -- penghitung mereka berhenti. Para pembeli dan penjual saham di sana mengambil waktu untuk berdoa bagi keselamatan para astronaut di Apollo 13. Dewan kongres menganggap penting peristiwa tersebut, sehingga di tengah-tengah rapat mereka mengeluarkan pengumuman yang mendorong orang untuk berdoa bagi rencana penyelamatan Apollo 13."

Gereja-gereja di seluruh Amerika mengadakan pertemuan doa khusus, memohon kepada Tuhan untuk kepulangan para astronaut Apollo 13. Jerry bahkan mendengar bahwa pelayanan misi di Burma dan orang-orang Kristen di Guyana, Afrika Barat, berdoa bagi mereka. Jerry melihat rekan-rekan sekerjanya di ruangan pengawas misi penerbangan ini menundukkan kepala mereka dan berdoa. Seperti ratusan ribu asap kemenyan yang naik ke surga, doa-doa dari seluruh dunia dinaikkan demi harapan agar Tuhan menyayangkan nyawa ketiga pria pemberani ini.

Masalah paling pelik yang dihadapi oleh personel NASA dan yang harus segera dipecahkan adalah masalah sistem penyaringan udara. Dalam Lunar Lander sebenarnya terdapat cadangan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga orang ini selama perjalanan pulang mereka. Masalahnya adalah sistem penyaring udara itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan yang baru ini. Karbon dioksida yang dihasilkan oleh para astronaut lambat laun tidak akan mampu diproses oleh sistem penyaring udara itu, sehingga para astronaut akan mati karena kekurangan oksigen.

Para teknisi NASA mengambil keputusan bahwa para astronaut tersebut harus mengambil filter yang berada di pesawat induk (yang berbentuk segi empat), dan membentuknya ulang agar cocok dengan sistem penyaringan udara yang terdapat pada Lunar Lander (yang didesain untuk penyaring udara yang berbentuk bulat). Pepatah yang mengatakan "Anda tidak dapat memasangkan pasak yang berbentuk segi empat di lubang yang bulat" adalah masalah yang sedang dialami para teknisi NASA pada saat itu.

Jerry mengingat kembali bagaimana para teknisi menghadapi dilema tersebut secara frontal: "Malam itu, mereka menaruh di atas meja benda apa pun yang berada dalam Apollo 13, yang mungkin dapat menolong untuk memecahkan kesulitan ini. Mereka bahkan mengeluarkan kantong plastik yang biasanya digunakan untuk menaruh batu bulan -- apa pun yang mereka tahu ada dalam pesawat itu."

"Salah seorang dari para teknisi itu melihat benda-benda yang saling tak terkait itu, dan di dalam benaknya ia melihat cara untuk membuat selang-selang yang terbuat dari baju astronaut dan kantong-kantong plastik untuk batu bulan itu, dan beberapa lembar kertas karton yang digabungkan menjadi sedemikian rupa, sehingga penyaring udara itu dapat terpasang. Saya percaya bahwa ini adalah jawaban dari doa-doa yang dinaikkan. Teknisi ini menggambar konfigurasi yang ada dalam benaknya itu, sementara timnya sibuk menyusun prosedur bagi para astronaut, agar mereka dapat melakukannya." Ajaibnya, sistem yang baru itu dapat bekerja!

Meskipun rintangan besar yang pertama sudah mereka lewati, waktu yang berharga terus berjalan. Ratusan ilmuwan dan teknisi bekerja dengan gelisah untuk memecahkan rintangan berikutnya: sistem listrik yang tidak berfungsi. Para astronaut harus menggunakan bagian kerucut dari pesawat induk untuk dapat memasuki atmosfer bumi; namun demikian, mereka telah menggunakan seluruh daya yang ada dalam baterai di pesawat induk ketika listrik di pesawat itu padam. Daya yang berada dalam baterai ini adalah hal yang sangat penting bagi mereka untuk memasuki atmosfer bumi, tanpanya mereka tidak akan dapat kembali.

Seorang teknisi yang brilian mendesain sebuah cara agar mereka dapat "memancing" baterai di kapsul induk dengan menggunakan kabel sementara. Jerry mengingat bahwa para teknisi harus menentukan apakah ada kabel di pesawat itu yang dapat dipakai untuk rencana ini.

"Teknisi tersebut bahkan tidak yakin bahwa kabel yang dimaksud itu ada di pesawat tersebut, tetapi jika mereka dapat menemukannya, maka ia dapat menyambungkan dua sistem listrik tersebut -- sistem listrik yang berfungsi di Lunar Lander dengan baterai yang sudah habis terpakai di pesawat induk. Ia mungkin dapat menyetel pemutus arus listrik dalam konfigurasi tertentu, sehingga dapat mengalirkan daya melalui kabel ke dalam baterai yang sudah habis di kapsul yang digunakan untuk memasuki atmosfer bumi."

Setelah pencarian yang teliti menggunakan skema pesawat itu, mereka akhirnya menemukan kabel yang dibutuhkan. Prosedur yang belum pernah dicoba sebelumnya tampak menjanjikan, namun tetap memiliki risikonya. Ketika mereka melakukan prosedur itu pada simulasi komputer, hasil yang didapat tidak baik. "Hasil simulasi itu mengatakan, 'Jangan lakukan itu; prosedur ini terlalu berbahaya,'" kata Jerry. "Tetapi kami tidak memiliki alternatif lain. Kami harus melakukannya, sebab tanpa daya listrik itu mereka tidak akan dapat memasuki atmosfer bumi."

Ketika prosedur yang berisiko itu dijalankan, peringatan komputer itu benar-benar terjadi. Salah satu dari baterai itu meledak. "Kejadian itu benar-benar menjadi momen yang membangunkan, sebab suara ledakan itu terdengar seperti ledakan tabung oksigen yang pertama."

"Tetapi ajaibnya, doa-doa yang dinaikkan itu terjawab. Meskipun sel baterai itu meledak, tetapi baterai tersebut mengirimkan sejumlah daya yang dibutuhkan untuk keseluruhan misi itu. Dapatkah Anda memercayainya? Kabel yang seadanya dan baterai yang meledak, namun semuanya berjalan dengan baik, dan baterai yang berada di kapsul untuk kembali ke bumi itu telah terisi."

Tantangan terakhirnya adalah bagaimana cara membawa astronaut ini pulang. Dengan roket utama pesawat induk yang rusak, para teknisi harus mencari cara untuk menggunakan sistem pendorong yang dimiliki oleh Lunar Lander.

"Mesin pendorong itu tidak pernah didesain untuk membawa seluruh bagian pesawat itu kembali ke bumi, tetapi hanya didesain untuk mendarat di permukaan bulan saja dan kembali ke pesawat induk. Sekarang kami benar-benar menggunakannya untuk mendorong seluruh bagian Lunar Lander dan pesawat induk untuk mengitari bulan dan kembali ke bumi." Dengan waktu yang sangat terbatas, ratusan teknisi dan pengawas penerbangan bekerja tanpa lelah bersama-sama dengan para astronaut Apollo 13 untuk melakukan prosedur itu, langkah demi langkah, untuk menggunakan mesin dari Lunar Lander.

Jerry mengingat betapa takjubnya ia, ketika memandangi bagian-bagian pesawat yang rontok, dan sebagai Teknisi Sistem Peringatan, ia tahu bahwa ada banyak petaka yang dapat terjadi, namun tidak terjadi pada saat itu. Contohnya, ledakan itu terjadi di saat yang tepat. "Seandainya ledakan itu terjadi di bulan, atau ketika mereka dalam perjalanan kembali ke bumi, atau pada permulaan misi, maka mereka tidak akan dapat menyelamatkan para astronaut itu. Bahkan kejadian itu dapat juga terjadi di tempat peluncuran. Dapatkah Anda membayangkan besarnya kebakaran dan kehancuran yang ditimbulkan, seandainya seluruh menara peluncuran meledak dan terbakar? Hal itu akan menyurutkan ketertarikan dalam hal eksplorasi angkasa untuk bertahun-tahun."

Ketika ledakan tabung oksigen itu terjadi, salah satu astronaut baru saja memasuki Lunar Lander dan menyalakan beberapa sistem kunci. Karena palka pesawat sudah terbuka dan sistem pada Lunar Lander sudah menyala, maka transisi pesawat kecil itu untuk menjadi "sekoci penyelamat" menjadi lebih mudah. Semua langkah seolah-olah sudah diatur untuk menolong para astronaut itu kembali pulang.

Sementara pesawat yang bermasalah itu semakin mendekati bumi, ada satu lagi peristiwa dramatis yang terjadi: sebuah awan badai besar yang tampak berada di dekat tempat pendaratan di Samudra Pasifik menyingkir dari tempat tersebut, ketika Apollo 13 bersiap-siap memasuki atmosfer bumi.

Tentu saja ketiga astronaut Apollo 13 yang pemberani itu berhasil kembali ke bumi. Luar biasanya, mereka mendarat di koordinat pendaratan di air itu dengan akurasi yang sangat tepat, sekalipun terdapat rintangan-rintangan besar itu.

Sebelum petualangan ini, Jerry selalu membandingkan penerbangan ke luar angkasa dengan kursi berkaki tiga. Kaki yang pertama adalah para teknisi yang mendesain pesawat luar angkasa, kaki yang kedua adalah para astronaut yang menerbangkannya, dan yang ketiga adalah para pengawas penerbangan yang mengawasi para astronaut selama misi mereka. Ketika ia mengakui keberanian para astronaut Apollo 13 dan kecerdasan para pengawas penerbangan dan tim teknisinya, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari analogi ini: "Bagi misi Apollo 13, ada kaki keempat -- Tuhan dan doa yang dijawab."

Selama keterlibatannya dengan misi Apollo ke bulan yang bersejarah ini, Jerry Woodfill bukanlah seorang Kristen. Namun setelah melihat yang terjadi, bagaimana para astronaut itu berhasil kembali ke bumi, dan bagaimana banyak orang di seluruh dunia berdoa, Jerry menerima Yesus Kristus di dalam hatinya pada saat Pertemuan Pengusaha Kristen (Christian Businessmen's Meeting).

"Apa yang dapat Anda katakan ketika melihat peristiwa itu dengan mata kepala Anda sendiri? Saya adalah seorang saksi mata dari kejadian itu. Saya berpikir, jika Tuhan dapat melakukan mukjizat untuk membawa para astronaut yang tampaknya akan hilang itu pulang dari luar angkasa, maka Ia juga sanggup meraih saya dari ruang kendali misi di surga, dan memberi saya petunjuk dalam menjalani hidup saya." (t\Yudo)

Diterjemahkan dari:
Judul buku : In the Hollow of His Hand: The Amazing Stories of God's Care
Judul asli artikel : Jerry Woodfill: The Amazing Journey of Apollo 13
Penulis : Gorman Woodfin
Penerbit : Multnomah Publishers, Inc., Oregon 2001
Halaman : 69 -- 76

sumber :http://kesaksian.sabda.org/perjalanan_apollo_13_yang_menakjubkan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar